Malaikatku — Ibu.

Kamis, 31 Mei 2018.

01.29 Dini hari.

 

Malam ini aku menemukan sesuatu dari hasil bongkaran lemari ibuku, berawal dari mencari buku riwayat sakitku, dan ternyata aku menemukan lembaran-lembaran kertas yang ditulis oleh Ibu. Seiring-ku membaca satu per-satu kertas-kertas yang ter-acak, aku teringat masa-masa kelam yang kujalani dengan Ibu. Rasanya pilu dan rindu menjadi satu.

 

22 September 2014,

Hari ulang tahunku yang ke-14 dirayakan di restoran bernuansa sederhana. Sebagian keluargaku dan teman-teman sekolahku hadir di acara ulang tahunku, namun hanya Ibu yang pergi pada saat itu. Sehari, sebelum hari ulang tahunku aku sudah memaksa untuk mengantarkan Ibu ke bandara, tetapi ibu justru memaksaku agar acara besok tetap berjalan. Jujur, saat itu aku sama sekali tidak menikmati acaraku. Sama sekali. Ingin rasanya meninggalkan seluruh tamu yang ada di acara itu dan berlari ke Bandara untuk memeluk Ibu sebelum kepergiannya.

 

Dan sekarang, sudah hampir 4 tahun ibu pergi untuk menghidupkan dirinya, aku dan keluarga barunya. Ibuku adalah orang yang sangat bertanggung jawab, walau jauh dari aku Ibu tetap membiayai-ku. Ibuku adalah perempuan yang sangat tangguh, terlalu banyak kata-kata yang harus saya lontarkan untuk mendeskripsikan betapa kuatnya Ibuku dalam menghadapi hidup ini. Kertas-kertas yang baru saya temukan di dalam lemari Ibu saya, berisi tentang goresan yang menyemangati dirinya dikala hidupnya yang berat.

Sekian waktu terlewatkan kulalui sendiri,

berusaha tetap tegar berjalan dengan harapan
kala derita terkikis oleh sang waktu
hilanglah lara yang selama ini mendera
kehadirannya membuat hidupku berwarna

Seperti langit yang kelam
Tertutup awan hitam yang gelap
Ketika angin datang membawaku pergi
Semua gelap menjadi terang
Kuyakin akan ada secerah harapan

Seperti angit yang tertutup awan
Biru cerah, menjadi hitam kelam
Berharap angin segar datang menghembus
Membawa pergi semua kegelapan

Pergilah derita,
Datanglah Bahagia

 

Ada tanggal dimana pada saat itu aku menguras habis air mataku. Khususnya di hari Ibu ulang tahun, ingin sekali rasanya mengejutkan ibu dengan kue tart di tanganku lalu diakhiri dengan ibu meniupnya. Namun, keadaan berbicara lain. Tahun ini, aku berencana mengucapkan ulang tahun ke Ibu pada jam 9 malam waktu Indonesia, karena di Australia selisih waktunya 3 jam lebih awal. Dan ternyata, Ibu tidak menerima panggilanku, sedikit kecewa namun disisi lain aku mengerti bahwa Ibu tidak pernah bekerja tidak keras. Akhirnya, aku mengirimkan pesan singkat. Jam 2 waktu Indonesia, Ibu membalas ucapanku. Dan berhasil membuatku nangis tersengguk-sengguk.

Thank you, Dimitri sayang.

I’m sure that one day you will come here, and we will meet each other at the right time.

Makasih atas semua Do’a nya ya. InsyaAllah Mama selalu positif dan bisa sukses karena punya anak yang baik, cantik dan shalehah.

Dan mama setiap hari sangat bersyukur kalo mama punya anak seperti Dimitri
yang menjadi salah satu motivasi terbesar dalam hidup mama.

Je t’aime beaucoup aussi Dimitri sayang.

 

Sekian benak saya pada malam yang sendu.

Teruntuk Malaikatku,

Ibu,

saya Rindu.

-D.L

Iklan